Sang Roda

Di Inspirasi 50 views
Sang Roda,5 / 5 ( 1voting )

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, beliau tak dapat lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi ketika beliau melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, beliau melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemanakah hendak di cari satu bab tubuhnya itu? Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah beliau tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap,akan itemukannya jari-jari yang hilang itu. Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei… semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. 

Namun kini, semuanya tampak lebih indah. Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka sekarang tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan memberikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya. Bunga-bunga pun tampak lebih indah, harum , dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar, Sang bunga pun merunduk, menawarkan salam hormat. Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan menawarkan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan gendering yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun menawarkan salam, dan doa pada sang roda. Begitu pula kerikil dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jikalau di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi kerikil itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari kerikil dan pualam, membuka jalan, menawarkan kesempatan untuk melanjutkan perjalan. Setelah usang berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan beliau berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melaksanakan tugasnya. NB; Teman, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku ibarat roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada ketika indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil yang sebetulnya meneyenangkan, namun kita lewatkan alasannya ialah terburu-buru dan tergesa-gesa. 

Hati kita, kadang, terlalu penuh dangan target-target, yang menciptakan kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita berbagai pesan yang tersirat yang perlu di tekuni. Seperti ketika roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut, dan pualam, kita pun bersama-sama sedang terlupa pada hal-hal itu. Teman, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalan kita.

author
Penulis: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba
    Cerita Petani
    Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani

    Komentar ditutup.

    Baca Juga×

    Top