Kisah Si Penebang Pohon

In Inspirasi 3 views
Alkisah, seorang pedagang kayu mendapatkan lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena honor yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat mulai bekerja, si majikan memperlihatkan sebuah kapak dan memperlihatkan area kerja yang harus diselesaikan dengan sasaran waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, ia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memperlihatkan kebanggaan dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa!Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja ibarat itu.”Sangat termotivasi oleh kebanggaan majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi ia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, ia bekerja lebih keras lagi, tetapi jadinya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya saya telah kehilangan kemampuan dankekuatanku. Bagaimana saya sanggup mempertanggung jawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa aib dan putus asa.
Dengan kepala tertunduk ia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kau mengasah kapak?””Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi sampai sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.”Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kau kerja? Dengan kapak gres dan terasah, maka kau bisa menebang pohon dengan hasilluar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, memakai kapak yang sama tetapi tidak diasah, kau tahu sendiri,hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kau harusmeluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, supaya setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak. Istirahat bukan berarti berhenti. Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.Sama ibarat si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi sampai malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yakni istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal gres untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita bisa mengatur ritme acara ibarat ini, niscaya kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
author
Author: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba

    Comments are closed.

    Must read×

    Top