Kisah Jenderal Yang Selalu Menang

  • Whatsapp

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki “Sang Jenderal Penakluk ” oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terangsak hingga ke pinggir jurang. Pada dikala itu para prajurit Sang Jenderal menjadi frustasi dan ingin mengalah kepada musuh saja.

Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, “Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang.” Saya akan melaksanakan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!” seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos… Ternyata sisi gambar tanda kemenangan yang muncul!


Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, “Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah niscaya menang!!!” Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya. Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, “Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita.”


Sang Jenderal menukas, “Apa iya sih?” sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit mengusut kedua sisi keping itu, dan beliau hanya sanggup melamun ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya yakni gambar tanda kemenangan. Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak sanggup kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, intinya dan pada akhirnya, kita tetap sanggup mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi senang atau menjadi tidak berbahagia. Jika senang atau tidak senang diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi bergotong-royong nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri.


Ujung-ujungnya, kebahagiaan yakni sebuah pilihan proaktif. “The most proactive thing we can do is to `be happy’,” begitu kata Stephen R. Covey dalam buku 7 Habits-nya.

Pos terkait