Iri Tiada Henti

  • Whatsapp

Ada seorang pemecah kerikil yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba dia berkembang menjadi orang kaya. Ketika dia sedang bepergian dengan keretanya, dia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba dia berkembang menjadi seorang pejabat.

Ketika dia meneruskan perjalanannya, dia mencicipi panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba dia berkembang menjadi matahari. Ketika dia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba dia berkembang menjadi awan. Ketika dia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba dia berkembang menjadi angin.

Ketika dia sedang berhembus, dia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba dia berkembang menjadi gunung. Ketika dia sedang bertengger, dia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba dia terbangun sebagai pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu. Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok… hingga Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: “Rasa berkecukupan yakni kekayaaan terbesar.” Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada selesai alasannya roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk membuatkan pikiran dengan seimbang, tidak menempel terhadap delapan kondisi duniawi. Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi. Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun. Be Happy!

Pos terkait