‘Harga’ Yang Harus Kita Bayar

In Inspirasi 4 views

Alkisah, di pinggir sebuah kota , tinggal seorang seniman pematung yang sangat populer di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah darah biru dan orang-orang kaya di negeri itu. Bahkan, di dalam istana kerajaan sampai taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan patung karya si seniman itu. Suatu hari, tiba seorang cowok yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, beliau diperbolehkan mencar ilmu padanya. Bahkan, ia juga diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung.


Sejak hari itu, mulailah beliau mencar ilmu dengan tekun, mengukur ketepatan materi gabungan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibentuk patung, dan banyak sekali kemampuan mematung lainnya. Setelah mencar ilmu sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam alat-alat yang biasa digunakan gurunya. Dia berpikir, belakang layar kehebatan sang guru niscaya di alat-alat yang dipergunakan. ”Guru, bolehkan aku meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin mencoba membuat patung dengan menggunakan alat-alat yang selalu digunakan guru semoga akhirnya bisa menyamai patung buatan Guru.” ”Silakan pakai, kau tahu dimana alat-alat itu berada kan ? Ambil saja dan pakailah, ” jawab sang guru sambil tersenyum.


Selang beberapa hari, dengan wajah lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata, ”Guru, aku sudah berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, menggunakan alat-alat yang biasa digunakan Guru. Kenapa akhirnya tetap tidak sebagus patung yang Guru buat” ”Anakku, gurumu ini mencar ilmu dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda, mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi tidak pernah pula berhenti mematung sampai hari ini. Bukan alat-alat bantu yang engkau pinjam itu yang kau butuhkan untuk menjadi seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk menekuninya yang harus engkau punyai. Dengan begitu, lambat laun engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik. ” ”Terima kasih Guru, aku berjanji akan terus berlatih, mohon Guru bersabar mengajari saya. ”


Pembaca yang berbahagia,

Untuk membuat sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan bakat semata. Kita butuh proses mencar ilmu dan ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil yang didapat bahwasanya sangat tergantung pada tangan-tangan terampil dan terlatih yang menggerakkannya. Demikian pula dalam kehidupan ini, jikalau ingin meraih prestasi yang gemilang, ada harga yang harus kita bayar! Apapun bidang yang kita geluti, apapun bakat yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya sampai tercapai kesuksesan yang membanggakan!

author
Author: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba

    Comments are closed.

    Must read×

    Top