Dua Buah Kutub

In Inspirasi 3 views

Saat kembali ke kota kelahiran, aku menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa mitra usang diantaranya yaitu dua bersaudara yang salah satunya berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya yaitu seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses. Diantara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi materi pergunjingan mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang bau tanah yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, sanggup menjadi sangat berbeda.
Kunjungan aku ke panti rehabilitasi dimana mitra aku itu berada cukup menciptakan beliau terhibur. Dalam salah satu perbincangan beliau menjawab pertanyaan klise aku “Ya, semua ini gara-gara Ayah saya”

Dengan lirih beliau meneruskan ucapannya “Ayah aku seorang pemabuk dan penjudi, keluarga aku melarat dan berantakan, beliau hanya memikirkan dirinya sendiri, sama sekali tak pernah memikirkan saya” Masih tertunduk lesu dan katanya lagi “Apa yang sanggup dibutuhkan dari aku hasil dari sebuah keluarga yang awut-awutan ini?” Sehari sebelum kembali ke Jakarta, aku masih sempat menemui saudaranya yang siang itu berada di show-room-nya yang cukup besar dengan aneka kendaraan beroda empat terpajang.
Ditengah kegembiraan alasannya yaitu usang tidak berjumpa, salah satu pembicaraan kami yaitu perihal saudaranya yang ada di panti rehabilitasi narkoba. Pertanyaan impulsif pun mengalir dari bibir aku “Apa yang menciptakan kau berbeda dengan saudaramu dan sanggup sukses menyerupai kini ini?”

Nampak beliau menghela nafas kemudian beliau berkata “Sudah terlalu banyak penderitaan dalam kehidupan aku dan keluarga kami, aku hanya bertekad untuk mengakhirinya” “Saya benar-benar tidak ingin bernasib menyerupai Ayah aku dan ingin membahagiakan Ibuku, itulah tekad aku selama ini” Keduanya mendapat kekuatan dan motivasi dari sumber yang sama, bedanya yaitu yang seorang memanfaatkannya secara positif, dan seorang lainnya menggunakannya secara negatif. “Mereka yang nyata tak peduli segelap apapun keadaannya, kepalanya selalu tegak serta menengadah melihat semua kemungkinan dan semua itu ada dihadapannya. “

author
Author: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba

    Comments are closed.

    Must read×

    Top