Dirasuki Ketamakan Uang & Harta

Di Inspirasi 43 views


Alkisah, di sebuah negeri, ada seorang saudagar kaya raya. Ia yakni pemilik restoran populer dan terbaik yang pernah ada pada masa tersebut. Selain rasanya khas, makanannya sangat lezat, dan pelayanannya pun sangat memuaskan siapa saja yang tiba ke sana.

Berkat restoran itu pula, sang saudagar menerima banyak rezeki. Meski usahanya menjadi berkembang ke banyak sekali bidang, namun restoran itulah yang menjadi urat nadi perjuangan yang sangat dijaganya. Karena itu, alasannya yakni tak mempunyai keturunan, di usianya yang sudah makin tua, ia ingin mewariskan perjuangan itu pada orang terpilih yang nanti akan dipercaya untuk menjalankan usahanya itu. Ia nanti akan menyerahkan perjuangan itu kepada orang yang terbaik, dengan syarat separuh hasil yang didapat, harus disumbangkan kepada kaum yang tak berpunya.

Beberapa ketika sang saudagar memikirkan cara untuk menentukan orang tersebut. Hingga, suatu kali, ia ngundang 80 orang yang dianggap terbaik di daerahnya. Kepada 80 orang tersebut, ia menyajikan hidangan terbaik untuk makan malam di restorannya.

Saat ke-80 orang tersebut berdatangan memenuhi undangannya, banyak wajah-wajah berharap, mereka yang akan terpilih mewarisi kekayaan sang saudagar. Begitu pun sang saudagar, ia berharap sanggup menentukan orang terbaik yang sanggup mewarisi usahanya. Setelah berbasa-basi sejenak, ke-80 orang itu lantas dipersilakan duduk untuk menyantap hidangan makan malam.

Uniknya, ada 20 meja kotak yang disediakan, dengan sumpit yang sangat panjang di masing-masing meja. Karena itu, ketika mulai dipersilakan makan, hampir semua orang yang sudah tak sabar mencicipi kelezatan masakan dari restoran sangat populer itu pun kerepotan.

Sang saudagar lantas berkeliling ke semua meja makan. Ia melihat hingga meja ke-19 tak ada satu pun yang berhasil menyantap masakan yang dihidangkan. Sebab, mereka berlomba-lomba makan dengan sumpit sangat panjang tersebut. Hingga akhirnya, sempurna di meja ke-20, saudagar pun tersenyum. Di meja tersebut, empat orang tampak menikmati hidangan dengan satu sama lain saling menyuapi. Memang, sumpit yang disediakan sangat panjang, sehingga mereka sanggup menyuapi orang di dekatnya, dan sebaliknya. Maka, hingga program hampir selesai, hanya mereka berempatlah yang kenyang. Sementara, yang lain tak sanggup menikmati hidangan alasannya yakni berusaha sendiri-sendiri untuk segera menyantap masakan enak tersebut.

__

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita, bahwa untuk sanggup meraih sesuatu, kita seharusnya memulai dengan “melayani”. Kita tak boleh serakah, tamak, atau hanya mementingkan kepentingan diri sendiri. Seperti yang tergambar dalam dongeng tersebut, hanya mereka yang mau “berkorban” dengan memberi masakan kepada yang lain, maka ia yang akan sanggup ikut makan dengan kenyang. Sementara, orang lain sibuk mencari cara bagaimana sanggup segera menyantap hidangan, justru kerepotan alasannya yakni tak tahu “cara” yang sempurna untuk memakan hidangan tersebut.

Kembali pada ungkapan yang saya tulis dalam judul artikel ini, dalam pepatah Tiongkok yakni 利欲熏心 Lì yù xūn xīn. Jadikan pengingat bahwa untuk meraih apa yang kita inginkan—termasuk harta dan uang—janganlah “terbuai” oleh godaan yang hasilnya malah menjerumuskan ke lubang penyesalan.

Sudah kita dapati, begitu banyak orang yang menjadi sumber informasi alasannya yakni kelakuannya. Mulai dari korupsi, hingga banyak sekali hal lain yang intinya, menimbulkan harta sebagai hal yang utama.

Saya langsung menilai, uang dan harta memang penting. Namun, ada banyak hal penting lain yang juga harus menjadi perhatian utama kita. Bagaimana kita bersikap, bagaimana kita membantu orang lain, bagaimana kita menemukan keseimbangan dalam hidup, sehingga kebahagiaan sanggup kita peroleh. Harta yakni sarana. Kita yakni manusia. Karena itu, mari jadikan “sarana” tersebut sebagai potongan dari kehidupan kita, namun jangan hingga menjadikannya sebagai hal yang membelenggu kita.

Mari, jadikan hidup lebih berarti. Dengan mau peduli dan berbagi, harta dan uang kita akan jauh lebih mempunyai arti.

author
Penulis: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba
    Cerita Petani
    Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani

    Komentar ditutup.

    Baca Juga×

    Top