Diam Pada Ketika Yang Tepat

In Inspirasi 4 views

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar kemudian menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, adakala tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia populer sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, menyerupai biasanya ia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayubakar. Setelah cukup usang ia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia kemudian memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ialalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.”

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan biar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tibalewat seorang ningrat kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya.Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju ningrat itu danmerobeknya. Bangsawan itu pribadi marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu kemudian menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu kemudian berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.” Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu membisu saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh ningrat itu, kesannya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itubertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapapertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim kesannya berkata pada ningrat itu, “Mungkin orang ini bisu, sehingga ia tidak sanggup memperingatkanmu dikala di pasar tadi.”

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia kemudian berkata,”Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak dipasar tadi. Tidak mungkin kini ia bisu!” dengan nada sedikit emosi.”Pokoknya aku tetap minta ganti,” lanjutnya.

Dengan damai sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?” Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya.”

Mendengar keputusan hakim itu, ningrat itu hanya sanggup membisu dan bingung. Ia gres menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan ningrat itu dengan hanya diam.

author
Author: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba

    Comments are closed.

    Must read×

    Top