Apa Yang Kita Sombongkan?

In Inspirasi 6 views

Sombong yaitu penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih ikhlas dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong lantaran materi sangat gampang terlihat, namun sombong lantaran pengetahuan, apalagi sombong lantaran kebaikan, sulit terdeteksi lantaran seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini yaitu ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan keyakinan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berkembang menjadi pujian (pride), Anda sudah berada sangat bersahabat dengan kesombongan. Batas antara besar hati dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita gotong royong terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada ketika terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk banyak sekali keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu menyampaikan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan usaha menuju kesadaran sejati. Untuk dapat melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita yaitu spiritualitas, sementara badan fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan menyerupai ini akan menciptakan kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang sekarang kita lihat yaitu “tampak dalam”. Pandangan menyerupai ini akan membantu menjauhkan kita dari banyak sekali kesombongan atau delusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata yaitu juga demi diri kita sendiri. Kita memperlihatkan sesuatu kepada orang lain yaitu juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku aturan kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan niscaya akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita gotong royong sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong ?

author
Author: 
    Jangan Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya saat
    Ternyata Hidup Bijak Itu Sederhana
    Ada seseorang dikala melamar kerja, memungut sampah
    Perjalanan Bersama Malaikat
    Aku bermimpi suatu hari saya pergi ke
    Belajar Mengasihi Dari Cicak
    Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba

    Comments are closed.

    Must read×

    Top